Proses Keagamaan Zaman Modern
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Pembelajaran : Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pembimbing :Muhammad Akram
Dibuat
oleh:
Magdalena Meiliana
1C214890
1EA48
Gunadarma University
Jl. Akses Islamic Village Kelapa Dua,
Karawaci
Telp. 087788779999, http://gunadarma.ac.id
I. Pendahuluan
Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat dekat
di masyarakat. Bahkan banyak yang salah mengartikan bahwa agama dan kebudayaan
adalah satu kesatuan yang utuh. Dalam kaidah sebenarnya agama dan kebudayaan
mempunyai kedudukan masing – masing dan tidak dapat disatukan, karena agamalah
yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada kebudayaan. Namun keduanya
mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat.
Geertz (1992:13), mengatakan bahwa wahyu membentuk
suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan
hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan
tingkah laki mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya
immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran,bangunan.
Dapat disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama
timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil
daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup
pelakunya, yaitu factor grografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
II.
Pembahasan
Atisme Dalam Masyarakat Modern
Pernahkah
anda mendengar kisah orang gila yang meyalakan lentera di pagi hari yang cerah,
lari ke pasar dan tidak henti – hentinya berteriak, “ aku mencari Tuhan !”
ketika banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan berdiri disekitar dia waktu
itu, ia membuat mereka tertawa keras. Kenapa, apakah Tuhan tersesat ? kata
seseorang. Apakah ia tidak tahu jalan seperti anak kecil ? kata yang lain.
Ataukah bersembunyi ? Takut sama kita ? Apakah ia lagi berpergian ? Atau pindah
rumah ? begitulah mereka besorak dan tertawa. Orang gila itu melonat ketengah -
tegah mereka dan memandang mereka dengan tatapan tajam.
“
Kemana Tuhan?” ia berteriak. “ kubilang kepada kalian, kita sudah membunuhnya
--- kamu dan saya. Semua kita adalah pembunuhnya. Tetapi bagaiman kita
melakukannya ? Bagaiman kita mampu meminum habis air samudra ? Siapa yang
memberi kita busa untuk menyapu seluruh cakrawala ? Apa yang kita lakukan
ketika kita lepaskan bumi dari mataharinya ? Kemana bumi ini bergerak kini ?
kemana kita sekarang bergerak ? Menjahui semua mentari ? Apakah kini kita
terguling terus-menerus? Kebelakang, kepinggir, kedepan, keseluruh arah ?
Masihkah tesisa keatas atau kebawah? Tidakkah kita terkatung-katung dalam
ketiadaaan tampa batas? Tidakkah kita merasakan napas dari ruang hampa?
Tidakkah udara menjadi lebih jauh dari mereka dari gemintang yang paling jauh dan
toh mereka telah melakukannya sendiri.
Dalam
tingkatnya yang paling ekstrem, ateis rasionalistik mengingkari Tuhan karena
penjelasan dunia. Dalam tingkatannya yang paling ekstrem, ateis rasionalistik
mengatakan bahwa pernyataan “Tuhan ada” bukanlah ppernyataan yang berarti
“Tuhan ada” adalah nonsense, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris.
Pada masa kini, aliran ini mempengaruhi pemikiran modern dalam bentuk
materialisme, positivisme logis dan psikoanalisis.
Materialisme
“Manusia
adalah produk sebab-sebab yang tidak dapat diketahui akibat yang
ditimbulkannya, bahwa asal-usulnya, pertumbuhannya, harap dan takutnya,
kecintaan dan kepercayaannya, hanyalah akibat susunan atom yang terbentuk
secara kebetulan, bahwa neraka, heroisme, intensitas pikiran dan perasaan,
tidak dapat menampung kehidupan individu setelah kematian, bahwa semua kerja
keras selama berabad-abad, semua pengabdian , semua inspirasi , semua
kecerdasan umat manusia yang cemerlang, ditakdirkan punah dalam kematian tata
surya dan seluruh istana prestasi manusia akhirnya tidak bias tidak harus
dibenamkan dibawah runtuhan alam semesta- semua ini, jika tidak diperdebatkan,
hampir dapat dikatakan mendekati kepastian, sehingga tidak satu pun yang
menolaknya dapat bertahan.”
Positivisme Logis
Positivisme
adalah “ a family of philosophies
characterized by an extremely positive evaluation of science and scientific
method.” Positivisme ditegakkan diatas lima asumsi (yang dapat kita sebut
sebagai “rukun iman”-nya Positivisme) yakni: logika-empirisisme, realitas
obyektif , reduksionisme, determinisme dan asumsi bebas-nilai.
Proses Keagamaan Wajar Zaman Modern
Secara
politik-formal, mungkin juga dapat dikatakan legal-formal, Negara kita tidak
membenarkan adanya ateisme. Pada saat sekarang, setelah Orde Baru sejak 1966,
ateisme dipandang sebagai “musuh” Negara, dan seorang warga Negara tidak
dibenarkan menganut ateisme atau mengaku sebagai ateis. Setidaknya itulah yang
dapat kita katakaan berdasarkan ketentuan yang berlaku sekarang. Ketentuan itu,
sebagaimana semua kita telah mengetahui, adalah akibat pengalaman pahit hidup
bersama kaum komunis yang tampil secara politik melalui PKI. Bagi banyak orang,
adalah truisme belaka bahwa kaum komunis adalah ateis, dan bahwa ateisme telah
menjerumuskan mereka ke lembah praktik-praktik
tak bermoral di bidang politik, terutama dalam usaha meraih kekuasaan. Bahkan
dalam mengikuti proses politik yang legal-konstitusional ( yang damai dan wajar
) seperti ambil bagian dalam pemilihan umum (1955) pun kaum komunis tampil
dengan sikap yang tidak jujur dan licik, seperti klaim mereka bahwa lambing “
palu arit” adalah lambang Partai Komunis Indonesia dan “ Orang yang tidak
berpartai”. Dengan kelicikan itu PKI keluar sebagai partai keempat terbesar dinegeri
kita, setelah PNI, Masyumi dan NU. Seperti halnya dengan paham-paham
kefalsafatan, ateisme adalah sesuatu yang abstrak, yang belum tentu terdapat
pada mereka yang tergabung dalam kelompok formal ateis seperti partai komunis.
Kenyataannya, banyak aktivis PKI ketika menghadapi kematian (hendak di
eksekusi), sempat atau meminta kesempatan untuk melakukan ibadat keagamaan
tertentu menurut keyakinannya, seperti membaca Surat Yasin bagi yang yakin
kepada Islam. Sebaliknya sebagai falsafah, belum tentu ateis tidak terdapat
pada perorangan yang resminya menganut suatu agama Sebab selalu ada orang yang
secara lahiriah menyatakan diri menganut suatu agama dengan tulus karena ia
meyakini kebenaran ajaran agama itu untuk berbuat baik kepada sesama manusia,
namun serentak dengan itu ia menolak atau tidak percaya kepada konsep formal
Ketuhanan agama tesebut. Orang seperti itu disebut sebagai menerapkan “
kesalehan tanpa iman”
Karena
itulah maka persoalan sebenarnya dari ateisme ialah persoalan kecongkakan manusia
yang hendak mengandalkan dirinya sendiri dalam hal ini akal dan ilmu
pengetahuannya – untuk “ memahami “ Tuhan. Dari sudut pandangan keagamaan
(Islam), pendekatan demikian itu pasti gagal, dan wajar sekali jika mereka
berkesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Kegagalan itu bermula dari keterbatasan
akal manusia, khususnya akal manusia modern, yaitu akal yang hampir apriori
membatasi diri hanya kepada hal-hal yang empiric secara materialistik.
Tegangan antara Agama dan Kemoderenan
Modernitas,
modernisasi dan modernisme kini merupakan kenyataan yang mendunia, yang kita-
umat manusia- harus hidup di dalamnya. Bahkan bagi banyak orang, kenyataan
tersebut bersifat absolute dan final.
Apalagi
penghadapan modernisme dan agama bukannya tanpa masalah. Penghadapan tersebut,
dalam segenap tatarannya (dari tataran filosofis hingga tataran empiris) sering
kali bersifat oposisional, konfliktual bahkan saling menindas/merepresi dan
tegangan-tegangan tersebut tetap benar dan nyata pada saat ini.
Pertama
– tama ada banyak cara untuk memandang (dan memaknakan) kata “modern”. Secara
histories, kata “modern” menjadi penanda bagi era yang kita alami dari suatu
masa lampau ( dengan rentang yang
amat panjang) yang disebut sebagai “era pramodern”
Sebenarnya,
bentuk- bentuk pemikiran modern telah ada dan menyebar dalam kurun waktu
sebelum industrialisasi. Umumnya, dengan memfokuskan pada rasionalitas (seperti
yang dilakukan oleh Max Webber), muasal pemikiran modern disepakati para ahli
adalah bentuk-bentuk pemikiran aufklarung (pencerahan) yang merebak di Eropa
abad ke-17 dan abad ke-18. Gellner menyebut bentuk-bentuk pemikiran itu sebagai
“rasionalitas pencerahan”.
Penghadapan
antara modernisme dan agama akan lebih jelas dengan gambaran pertempuran antara
“logos” dan “Mitos” dalam sejarah pemikiran manusia.
Hodgson
mengurai soal masyarakat padat teknik, masyarakat modern yang oleh suatu
gerakan peradaban besar-besaran pada abad ke-19, menggeser peradabab dunia
sebelumnya, yaitu peradaban agraris dengan segala warisannya. Hodgson menamai
gerakan besar itu sebagai “transmutasi”, atau sebuah proses penyebaran
teknikalisme besar-besaran yang amat cepat dari Daratan Eropa ke seluruh dunia.
Perlunya Trasformasi Agama
Kesadaran
individual menjadi perlu dalam penghayatan keagamaan yang dewasa dan terbuka.
Sebab kalau tidak para penganut agama bias tenggelam dalam ketidaksadaran
masssal atau kimunal , yang digerakkan oleh emosi primordial untuk membela
kebenaran agama demi keselamatan jiwanya sendiri. Agama bisa menjadi semacam
“idol” yang dipuja dan dibela, yang bahkan menggantikan kedudukan Tuhan sendiri
dan bukannya tuntunan atau jalan hidup yang mesti dititi.
Kesadaran
akan solidaritas dewasa ini memperlihatkan kekeliruan anggapan yang membatasi
agama dalam ruang lingkup prive, hubungan pribadi dengan Tuhan yang
dipercayainya karena kekhawatiran yang keliru seolah keterbukaan agama dalam
ruang sosila hanya akan menimbulkan persoalan. Agama yang menimbulkan gejolak
public, bukanlah agama yang dijalankan dengan kesadaran yang terbuka, melainkan
yang menganut individualisme sempit dan komunalisme tertutup sehingga tidak
mampu membaca tanda –tanda zaman dari dunia global dan plural.
Pilihan
akhir dari semua gama yang masih mau bertahan hifup di zaman ini amatlah
krusial. Agama harus mentransformasikan diri dengan memperhatiakn unsure-unsur
yang perlu, yakni kesadaran yang semakin mendalam dan terbuka akan perlunya
solidaritas. Transformasi semacam itu kiranya perlu dijalankan mulai sekarag
kalau agama tidak mau kehilangan “kairos” dan membeku dalam dalam sejarah yang
sebentar lagi akan menjadi masa lampau.
Globalisasi dan Perubahan Sosial Keagamaan
Gejala
globalisasi sebenarnya bukan merupakan perkembangan yang baru dalam masyarakat
sebagaimana sirasakan sekarang ini. Proses globalisasi yang berlangsung pada
saat ini telah menemukan bentuknya dan menyentuh pada dimensi yang lebih luas,
tidak hanya semata-mata untuk kepantingan ekonomi tetapi hingga menyentuh
masalah-masalah social kemasyarakatan. Proses globalisasi juga telah
menyebabkan dunia terasa menjadi semakin kecil, karena ia ditopang oleh
teknologi informasi dan komunikasi yang sangat begitu canggih..
Wallerstain
menyatakan bahwa perkembangan system dunia ini tidaklah berjalan secara mudah,
tidak berproses hanya secara evolusionistis, tetapi perputarannya penuh dengan
konflik dan kontradiksi-kontradiksi. Negar-negara bias bertukar posisi dan
sangat tergantung pada posisi ekonomi politiknya. Karena esensi utama dari
penyatuan system social global tersebut
ekonomi, maka aspek social lain seperti politik atau budaya ( termasuk agama)
sangat tergantung pasa fungsi-fungsi ekonomi.
Jika
alur berfikir dikemukakan oleh Wallerstain dipakai untuk membaca perkembangan
agama ditengah arus globalisasi, maka wacana keagamaan yang ada di dunia
mungkin dipengaruhi oleh corak berpikir Western. Sebab Negara-negara yang
memegang kendali perekonomian dan politik dunia adalah Negara-negara Barat
Eropa dengan komando ditangan Amerika Serikat. Agama-agama yang ada di
Negara-negara di Asia, Afrika sampai Amerika Latin yang mayoritas Negara
pinggiran akan mengalami prose pembaratan.
Dan
ternyata fakta yang terjadi di Negara-negara Asia dan Afrika ternyata tidak
selinear dengan apa yang ditesiskan oleh Wallerstain. Agama di Negara ini tidak
mengalami prose pembaratan sepenuhnya, yang terjadi justru poses arus balik dan
pertukaran budaya yang tumpah tindih. Di Barat sekarang ini banyak sekali
muncul agama-agama baru yang kebanyakan menemukan jalannya dalam bentuk
gerakan-gerakan yang berasal dari Afrika dan Asian memalui Eropa Timur.
Kristenisasi dengan kendaraaan kolonialisme dan penyebaran faham sekulerisme
bahkan mengalami penetangan-penentangan yang cukup tajam dari berbagai kalangan
masyarakat di Negara-negara pinggiran. Tidak jarang kemusdian ini menjaadi
sumber ketegangan dan kesaling curigaan antara masyaarakat Barat dan masyarakat
di Negara-negara miskin yang terpinggirkan.
Disinilah
bukti bahwa agama adalah bagian yang paling kompleks dalam menghadapi desakan
arus globalisasi dan modernisme. Orang boleh saja mengatakan bahwa system
social yang ada telah mengalami poses reduksi dan perubahan bentuk karena
pengaruh global dari Negara-negara yang memegang tampuk kendali ekonomi politik.
Namun harus diakui pula bahwa agama dan sistem kepercayaan adalah bagian yang
tidak secara mudah mengalami poses tersebut.
Agama sebagai Motor Perubahan
Agama
adalah unsur yang paling sukar dan paling lambat berubah atau terpengaruh oleh
kebudayaan lain. Bila dibandingkan dengan unsur-unsur lain seperti system
organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan , bahasa , ikatan-ikatan yang
ditimbulkan oleh system mata pencaharian, system teknologi dan peralatan. Dalam
kehidupan bangsa kita yang panjang berbagai agama datang dan berkembang secara
bergelombang ke Indonesia, mengganti agama yang lama dan menanamkan
ajaran-ajaran agama yang baru secara silih berganti, tetapi dalam kenyataannya
system mata-pencaharian hidup dan system teknologi dan peralatan yang paling
mudah ternyata paling sedikit mengalami perubahan sejak pra-Hindu sampai kepada
masa sekarang. Pengalaman sejarah itu justru menunjukkan agama berubah lebih
cepat, ia berubah lebih dahulu sebelum yang lain-lain mengalami perubahan.
Pandangan Snouck Hurgronje bahwa tiap-tiap
periode sejarah kebudayaan sesuatu bangsa, mamaksa kepada orang beragama untuk
meninjau kembali isi kekayaan akidah dan agamanya karena adanya perubahan
periode kebudayaan dimana agama itu hidup.
Disimpulkan bahwa proses tejadinya
pemahaman kembali isi ajaran-ajaran agama dapat disebabkan sebagai reaksi
adanya perubahan yang terjadi diluar agama itu, tapi juga didalam ajaran agama
itu sendiri dimungkinkan adanya proses pemahaman baru. Dengan demikian ada
pengaruh antara agama dan perubahan masyarakat.
Gus Dur berpandangan kalau agama memiliki
watak transformatif, yaitu berusaha menanamkan nilai-nilai yang baru dan
mengganti nilai-nilai yang lama yang dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran
agama. Dengan wataknya yang demikian itu agama tidak selalu menekankan segi-segi
harmoni dan aspek-aspek integratif dalam kehidupan masyarakat, tetapi
seringkali justru menimbulkan konflik-konflik baru karena misinya yang
transformatif itu mendapat tantangan dari sebagian anggota masyarakat.
Kesimpulan
· Kecenderungan berpikir “ ilmiah” orang “modern”
dalam penerapannya kepada masalah usaha “mencari” dan “memahami” Tuhan,
dorongan berpikir yang membatasi diri kepada kenyataan lahiriah itu justru
menjadi tabir penghalang atau hijab dari Tuhan Yang Maha Esa.
· Banyak orang yang mengaku percaya kepada Tuhan
tapi justru memperlihatkan kelakuan yang sangat mengecewakan atau merugikan
sesama manusia.
·
Modernisme,
baik sebagai rasionalitas pencerahan maupun sebagai teknkalisme, adalah
waxana, yang ditingkat filosofis hingga empiris, bahkan di tingkat praktis,
bersifat logosentris yang secara alamiah mendesak wacana agama ke pinggiran.
·
Perubahan
Ajaran agama terjadi karena adanya ajaran baru dan perubahan masyarakat
Daftar Pustaka
1. O. Hashem ,
Agama Marxis : Asal –usul Ateisme & Penolakan Kapitalisme, Ujungberung :
Nuansa,
2. Darmawan, Hikmat , TUHAN TAK SEMBUNYI ( Mencari Agama
untuk Zaman Baru ), Jakarta Selatan : PT. Mizan Publika, Januari 2005
3.
Sudiarja.A, Agama (di zaman) yang berubah, Kanisius ,
2006
4.
Hadi , Mukhtar , Agama Di Tengah Arus Globalisasi ,
STAIN Jurai Siwo Metro
5.
Rochmat , Saefur , Dialektika Agama Dengan Modernisasi









