Jumat, 12 Desember 2014

Kehidupan Agama di Zaman Modern



Proses Keagamaan Zaman Modern
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Pembelajaran : Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pembimbing :Muhammad Akram
















Dibuat oleh:
Magdalena Meiliana
1C214890
1EA48











Gunadarma University
Jl. Akses Islamic Village Kelapa Dua, Karawaci
Telp. 087788779999, http://gunadarma.ac.id



I.      Pendahuluan

Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat dekat di masyarakat. Bahkan banyak yang salah mengartikan bahwa agama dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Dalam kaidah sebenarnya agama dan kebudayaan mempunyai kedudukan masing – masing dan tidak dapat disatukan, karena agamalah yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada kebudayaan. Namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat.

Geertz (1992:13), mengatakan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laki mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran,bangunan.

Dapat disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu factor grografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

         II.      Pembahasan

Atisme Dalam Masyarakat Modern

Pernahkah anda mendengar kisah orang gila yang meyalakan lentera di pagi hari yang cerah, lari ke pasar dan tidak henti – hentinya berteriak, “ aku mencari Tuhan !” ketika banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan berdiri disekitar dia waktu itu, ia membuat mereka tertawa keras. Kenapa, apakah Tuhan tersesat ? kata seseorang. Apakah ia tidak tahu jalan seperti anak kecil ? kata yang lain. Ataukah bersembunyi ? Takut sama kita ? Apakah ia lagi berpergian ? Atau pindah rumah ? begitulah mereka besorak dan tertawa. Orang gila itu melonat ketengah - tegah mereka dan memandang mereka dengan tatapan tajam.

“ Kemana Tuhan?” ia berteriak. “ kubilang kepada kalian, kita sudah membunuhnya --- kamu dan saya. Semua kita adalah pembunuhnya. Tetapi bagaiman kita melakukannya ? Bagaiman kita mampu meminum habis air samudra ? Siapa yang memberi kita busa untuk menyapu seluruh cakrawala ? Apa yang kita lakukan ketika kita lepaskan bumi dari mataharinya ? Kemana bumi ini bergerak kini ? kemana kita sekarang bergerak ? Menjahui semua mentari ? Apakah kini kita terguling terus-menerus? Kebelakang, kepinggir, kedepan, keseluruh arah ? Masihkah tesisa keatas atau kebawah? Tidakkah kita terkatung-katung dalam ketiadaaan tampa batas? Tidakkah kita merasakan napas dari ruang hampa? Tidakkah udara menjadi lebih jauh dari mereka dari gemintang yang paling jauh dan toh mereka telah melakukannya sendiri.

Dalam tingkatnya yang paling ekstrem, ateis rasionalistik mengingkari Tuhan karena penjelasan dunia. Dalam tingkatannya yang paling ekstrem, ateis rasionalistik mengatakan bahwa pernyataan “Tuhan ada” bukanlah ppernyataan yang berarti “Tuhan ada” adalah nonsense, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris. Pada masa kini, aliran ini mempengaruhi pemikiran modern dalam bentuk materialisme, positivisme logis dan psikoanalisis.
Materialisme
“Manusia adalah produk sebab-sebab yang tidak dapat diketahui akibat yang ditimbulkannya, bahwa asal-usulnya, pertumbuhannya, harap dan takutnya, kecintaan dan kepercayaannya, hanyalah akibat susunan atom yang terbentuk secara kebetulan, bahwa neraka, heroisme, intensitas pikiran dan perasaan, tidak dapat menampung kehidupan individu setelah kematian, bahwa semua kerja keras selama berabad-abad, semua pengabdian , semua inspirasi , semua kecerdasan umat manusia yang cemerlang, ditakdirkan punah dalam kematian tata surya dan seluruh istana prestasi manusia akhirnya tidak bias tidak harus dibenamkan dibawah runtuhan alam semesta- semua ini, jika tidak diperdebatkan, hampir dapat dikatakan mendekati kepastian, sehingga tidak satu pun yang menolaknya dapat bertahan.”
Positivisme Logis
Positivisme adalah “ a family of philosophies characterized by an extremely positive evaluation of science and scientific method.” Positivisme ditegakkan diatas lima asumsi (yang dapat kita sebut sebagai “rukun iman”-nya Positivisme) yakni: logika-empirisisme, realitas obyektif , reduksionisme, determinisme dan asumsi bebas-nilai.

 Proses Keagamaan Wajar Zaman Modern

Secara politik-formal, mungkin juga dapat dikatakan legal-formal, Negara kita tidak membenarkan adanya ateisme. Pada saat sekarang, setelah Orde Baru sejak 1966, ateisme dipandang sebagai “musuh” Negara, dan seorang warga Negara tidak dibenarkan menganut ateisme atau mengaku sebagai ateis. Setidaknya itulah yang dapat kita katakaan berdasarkan ketentuan yang berlaku sekarang. Ketentuan itu, sebagaimana semua kita telah mengetahui, adalah akibat pengalaman pahit hidup bersama kaum komunis yang tampil secara politik melalui PKI. Bagi banyak orang, adalah truisme belaka bahwa kaum komunis adalah ateis, dan bahwa ateisme telah menjerumuskan mereka ke lembah  praktik-praktik tak bermoral di bidang politik, terutama dalam usaha meraih kekuasaan. Bahkan dalam mengikuti proses politik yang legal-konstitusional ( yang damai dan wajar ) seperti ambil bagian dalam pemilihan umum (1955) pun kaum komunis tampil dengan sikap yang tidak jujur dan licik, seperti klaim mereka bahwa lambing “ palu arit” adalah lambang Partai Komunis Indonesia dan “ Orang yang tidak berpartai”. Dengan kelicikan itu PKI keluar sebagai partai keempat terbesar dinegeri kita, setelah PNI, Masyumi dan NU. Seperti halnya dengan paham-paham kefalsafatan, ateisme adalah sesuatu yang abstrak, yang belum tentu terdapat pada mereka yang tergabung dalam kelompok formal ateis seperti partai komunis. Kenyataannya, banyak aktivis PKI ketika menghadapi kematian (hendak di eksekusi), sempat atau meminta kesempatan untuk melakukan ibadat keagamaan tertentu menurut keyakinannya, seperti membaca Surat Yasin bagi yang yakin kepada Islam. Sebaliknya sebagai falsafah, belum tentu ateis tidak terdapat pada perorangan yang resminya menganut suatu agama Sebab selalu ada orang yang secara lahiriah menyatakan diri menganut suatu agama dengan tulus karena ia meyakini kebenaran ajaran agama itu untuk berbuat baik kepada sesama manusia, namun serentak dengan itu ia menolak atau tidak percaya kepada konsep formal Ketuhanan agama tesebut. Orang seperti itu disebut sebagai menerapkan “ kesalehan tanpa iman”

Karena itulah maka persoalan sebenarnya dari ateisme ialah persoalan kecongkakan manusia yang hendak mengandalkan dirinya sendiri dalam hal ini akal dan ilmu pengetahuannya – untuk “ memahami “ Tuhan. Dari sudut pandangan keagamaan (Islam), pendekatan demikian itu pasti gagal, dan wajar sekali jika mereka berkesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Kegagalan itu bermula dari keterbatasan akal manusia, khususnya akal manusia modern, yaitu akal yang hampir apriori membatasi diri hanya kepada hal-hal yang empiric secara materialistik.

Tegangan antara Agama dan Kemoderenan

Modernitas, modernisasi dan modernisme kini merupakan kenyataan yang mendunia, yang kita- umat manusia- harus hidup di dalamnya. Bahkan bagi banyak orang, kenyataan tersebut bersifat absolute dan final.

Apalagi penghadapan modernisme dan agama bukannya tanpa masalah. Penghadapan tersebut, dalam segenap tatarannya (dari tataran filosofis hingga tataran empiris) sering kali bersifat oposisional, konfliktual bahkan saling menindas/merepresi dan tegangan-tegangan tersebut tetap benar dan nyata pada saat ini.

Pertama – tama ada banyak cara untuk memandang (dan memaknakan) kata “modern”. Secara histories, kata “modern” menjadi penanda bagi era yang kita alami dari suatu masa lampau      ( dengan rentang yang amat panjang) yang disebut sebagai “era pramodern”

Sebenarnya, bentuk- bentuk pemikiran modern telah ada dan menyebar dalam kurun waktu sebelum industrialisasi. Umumnya, dengan memfokuskan pada rasionalitas (seperti yang dilakukan oleh Max Webber), muasal pemikiran modern disepakati para ahli adalah bentuk-bentuk pemikiran aufklarung (pencerahan) yang merebak di Eropa abad ke-17 dan abad ke-18. Gellner menyebut bentuk-bentuk pemikiran itu sebagai “rasionalitas pencerahan”.

Penghadapan antara modernisme dan agama akan lebih jelas dengan gambaran pertempuran antara “logos” dan “Mitos” dalam sejarah pemikiran manusia.

Hodgson mengurai soal masyarakat padat teknik, masyarakat modern yang oleh suatu gerakan peradaban besar-besaran pada abad ke-19, menggeser peradabab dunia sebelumnya, yaitu peradaban agraris dengan segala warisannya. Hodgson menamai gerakan besar itu sebagai “transmutasi”, atau sebuah proses penyebaran teknikalisme besar-besaran yang amat cepat dari Daratan Eropa ke seluruh dunia.

Perlunya Trasformasi Agama

Kesadaran individual menjadi perlu dalam penghayatan keagamaan yang dewasa dan terbuka. Sebab kalau tidak para penganut agama bias tenggelam dalam ketidaksadaran masssal atau kimunal , yang digerakkan oleh emosi primordial untuk membela kebenaran agama demi keselamatan jiwanya sendiri. Agama bisa menjadi semacam “idol” yang dipuja dan dibela, yang bahkan menggantikan kedudukan Tuhan sendiri dan bukannya tuntunan atau jalan hidup yang mesti dititi.

Kesadaran akan solidaritas dewasa ini memperlihatkan kekeliruan anggapan yang membatasi agama dalam ruang lingkup prive, hubungan pribadi dengan Tuhan yang dipercayainya karena kekhawatiran yang keliru seolah keterbukaan agama dalam ruang sosila hanya akan menimbulkan persoalan. Agama yang menimbulkan gejolak public, bukanlah agama yang dijalankan dengan kesadaran yang terbuka, melainkan yang menganut individualisme sempit dan komunalisme tertutup sehingga tidak mampu membaca tanda –tanda zaman dari dunia global dan plural.

Pilihan akhir dari semua gama yang masih mau bertahan hifup di zaman ini amatlah krusial. Agama harus mentransformasikan diri dengan memperhatiakn unsure-unsur yang perlu, yakni kesadaran yang semakin mendalam dan terbuka akan perlunya solidaritas. Transformasi semacam itu kiranya perlu dijalankan mulai sekarag kalau agama tidak mau kehilangan “kairos” dan membeku dalam dalam sejarah yang sebentar lagi akan menjadi masa lampau.
Globalisasi dan Perubahan Sosial Keagamaan

Gejala globalisasi sebenarnya bukan merupakan perkembangan yang baru dalam masyarakat sebagaimana sirasakan sekarang ini. Proses globalisasi yang berlangsung pada saat ini telah menemukan bentuknya dan menyentuh pada dimensi yang lebih luas, tidak hanya semata-mata untuk kepantingan ekonomi tetapi hingga menyentuh masalah-masalah social kemasyarakatan. Proses globalisasi juga telah menyebabkan dunia terasa menjadi semakin kecil, karena ia ditopang oleh teknologi informasi dan komunikasi yang sangat begitu canggih..

Wallerstain menyatakan bahwa perkembangan system dunia ini tidaklah berjalan secara mudah, tidak berproses hanya secara evolusionistis, tetapi perputarannya penuh dengan konflik dan kontradiksi-kontradiksi. Negar-negara bias bertukar posisi dan sangat tergantung pada posisi ekonomi politiknya. Karena esensi utama dari penyatuan  system social global tersebut ekonomi, maka aspek social lain seperti politik atau budaya ( termasuk agama) sangat tergantung pasa fungsi-fungsi ekonomi.

Jika alur berfikir dikemukakan oleh Wallerstain dipakai untuk membaca perkembangan agama ditengah arus globalisasi, maka wacana keagamaan yang ada di dunia mungkin dipengaruhi oleh corak berpikir Western. Sebab Negara-negara yang memegang kendali perekonomian dan politik dunia adalah Negara-negara Barat Eropa dengan komando ditangan Amerika Serikat. Agama-agama yang ada di Negara-negara di Asia, Afrika sampai Amerika Latin yang mayoritas Negara pinggiran akan mengalami prose pembaratan.

Dan ternyata fakta yang terjadi di Negara-negara Asia dan Afrika ternyata tidak selinear dengan apa yang ditesiskan oleh Wallerstain. Agama di Negara ini tidak mengalami prose pembaratan sepenuhnya, yang terjadi justru poses arus balik dan pertukaran budaya yang tumpah tindih. Di Barat sekarang ini banyak sekali muncul agama-agama baru yang kebanyakan menemukan jalannya dalam bentuk gerakan-gerakan yang berasal dari Afrika dan Asian memalui Eropa Timur. Kristenisasi dengan kendaraaan kolonialisme dan penyebaran faham sekulerisme bahkan mengalami penetangan-penentangan yang cukup tajam dari berbagai kalangan masyarakat di Negara-negara pinggiran. Tidak jarang kemusdian ini menjaadi sumber ketegangan dan kesaling curigaan antara masyaarakat Barat dan masyarakat di Negara-negara miskin yang terpinggirkan.

Disinilah bukti bahwa agama adalah bagian yang paling kompleks dalam menghadapi desakan arus globalisasi dan modernisme. Orang boleh saja mengatakan bahwa system social yang ada telah mengalami poses reduksi dan perubahan bentuk karena pengaruh global dari Negara-negara yang memegang tampuk kendali ekonomi politik. Namun harus diakui pula bahwa agama dan sistem kepercayaan adalah bagian yang tidak secara mudah mengalami poses tersebut.

Agama sebagai Motor Perubahan

Agama adalah unsur yang paling sukar dan paling lambat berubah atau terpengaruh oleh kebudayaan lain. Bila dibandingkan dengan unsur-unsur lain seperti system organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan , bahasa , ikatan-ikatan yang ditimbulkan oleh system mata pencaharian, system teknologi dan peralatan. Dalam kehidupan bangsa kita yang panjang berbagai agama datang dan berkembang secara bergelombang ke Indonesia, mengganti agama yang lama dan menanamkan ajaran-ajaran agama yang baru secara silih berganti, tetapi dalam kenyataannya system mata-pencaharian hidup dan system teknologi dan peralatan yang paling mudah ternyata paling sedikit mengalami perubahan sejak pra-Hindu sampai kepada masa sekarang. Pengalaman sejarah itu justru menunjukkan agama berubah lebih cepat, ia berubah lebih dahulu sebelum yang lain-lain mengalami perubahan.

Pandangan Snouck Hurgronje bahwa tiap-tiap periode sejarah kebudayaan sesuatu bangsa, mamaksa kepada orang beragama untuk meninjau kembali isi kekayaan akidah dan agamanya karena adanya perubahan periode kebudayaan dimana agama itu hidup.

Disimpulkan bahwa proses tejadinya pemahaman kembali isi ajaran-ajaran agama dapat disebabkan sebagai reaksi adanya perubahan yang terjadi diluar agama itu, tapi juga didalam ajaran agama itu sendiri dimungkinkan adanya proses pemahaman baru. Dengan demikian ada pengaruh antara agama dan perubahan masyarakat.

Gus Dur berpandangan kalau agama memiliki watak transformatif, yaitu berusaha menanamkan nilai-nilai yang baru dan mengganti nilai-nilai yang lama yang dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Dengan wataknya yang demikian itu agama tidak selalu menekankan segi-segi harmoni dan aspek-aspek integratif dalam kehidupan masyarakat, tetapi seringkali justru menimbulkan konflik-konflik baru karena misinya yang transformatif itu mendapat tantangan dari sebagian anggota masyarakat.
 
       Kesimpulan

·       Kecenderungan berpikir “ ilmiah” orang “modern” dalam penerapannya kepada masalah usaha “mencari” dan “memahami” Tuhan, dorongan berpikir yang membatasi diri kepada kenyataan lahiriah itu justru menjadi tabir penghalang atau hijab dari Tuhan Yang Maha Esa.
·      Banyak orang yang mengaku percaya kepada Tuhan tapi justru memperlihatkan kelakuan yang sangat mengecewakan atau merugikan sesama manusia.
·         Modernisme,  baik sebagai rasionalitas pencerahan maupun sebagai teknkalisme, adalah waxana, yang ditingkat filosofis hingga empiris, bahkan di tingkat praktis, bersifat logosentris yang secara alamiah mendesak wacana agama ke pinggiran.
·         Perubahan Ajaran agama terjadi karena adanya ajaran baru dan perubahan masyarakat

Daftar Pustaka

1.   O. Hashem  , Agama Marxis : Asal –usul Ateisme & Penolakan Kapitalisme, Ujungberung : Nuansa,
2.   Darmawan, Hikmat , TUHAN TAK SEMBUNYI ( Mencari Agama untuk Zaman Baru ), Jakarta  Selatan : PT. Mizan Publika, Januari 2005
3.      Sudiarja.A, Agama (di zaman) yang berubah, Kanisius , 2006
4.      Hadi , Mukhtar , Agama Di Tengah Arus Globalisasi , STAIN Jurai Siwo Metro
5.      Rochmat , Saefur , Dialektika Agama Dengan Modernisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar